Wednesday, 11 September 2013

11 sept



Dalam perjalanan hidup, kepastian itu hanya sebagian kecil terjadi, tak banyak yang bisa dilakukan oleh manusia untuk bisa berjalan di jalur yang telah mereka tentukan. Kadang mereka harus berusaha keras untuk menlaluinya, bahkan tak sedikit juga yang tersesat dan akhirnya hanyamampu diam di titik tersebut, padahal mereka belum melalui separuh dari apa yang seharusnya mereka tempuh. Jati diri adalah hal yang sangat susah untuk diperoleh, namun apabila seseorang telah menemukan jati diri yang sebenarnya, akan dengan mudahnya mereka akan menemukan kebahagiaan yang benar-benar mereka cari. Tak peduli apakah tak ada uang d kantong, apakah makan hanya dengan lauk garam dan minyak goreng, atau bahkan tidur hanya beralaskan kain lusuh yang tak terpakai. Yang jelas kebahagiaan yang benar-benar nyata belum aku miliki sepenuhnya sampai saat ini. Tanpa menghilangkan rasa syukur yang begitu luar biasa yang telah Tuhan berikan, dengan masih memiliki kedua orang tua yang lengkap masih bisa menikmati kasur empuk dan banyak hal lain yang sepertinya tak akan bisa dihitung dengan apapun. Namun, hal lain yang aku rasakan adalah masih sering merasakan kesepian, tak diperhatikan, tak mempunyai seseorang yang benar-benar mengerti akan kebutuhan ku. Rasa haus akan perhatian dari ornag lain, kadang membuat ku suka berbuat hal-hal yang tak sewajarnya untuk ku lakukan, dan itu aku lanjutkan karena tak ada satupun yang memperdulikannya. Aku ingin dan sangat ingin, suatu ketika aku bisa menemukan ornag yang benar-benar bisa mengerti tentang keadaan ku yang sebenarnya yang selalu ada kapanpun saat aku membutuhkannya, selalu mengerti apa yang harus dia lakukan agar aku selalu merasa nyaman dan tak sendiri. Sosok itu sangat aku butuhkan saat ini, dimana aku ingin bercerita banyak tentang sedikit hal, berkisah tentang suatu naskah yang telah Tuhan rancang untuk ku. Entah bagaimana harus aku memulai, apakah dengan aku berteriak atau menangis tanpa henti, atau dengan menggoreskan aluminium tajam untuk memutus nadi ku. Kerinduan akan sosok itu dulu pernah terobati sesaat, namun saat aku menyadarinya, dia tak sepenuhnya memiliki waktu untuk ku, biarlah. Akupun tak bisa memaksanya untuk hal itu. Aku semakin yakin akan hal itu, saat banyak hal yang dia katakan seperti angin yang tak berbentuk, tak berwarna, berlalu hanya lewat didepan ku, dan akhirnya tak ada bekas apapun yang aku terima. Terimakasih untuk sedikit waktu yang telah diberikan, terimakasih untuk hal yang dapat aku pelajari, pembelajaran yang berharga banyak aku terima, walaupun tak dapat berlanjut, dan aku tahu bahkan sangat tahu itu. Maaf atas kerepotan yang sangat banyak yang telah aku buat. Ketidaknyamanan saat aku meminta bantuan untuk hal-hal yang menurut anda-anda tidak penting. Aku mengerti kehidupan kalian sangat berharga, dan waktu kalian sangat mahal walaupun hanya sekedar untuk berkata didepan ku sekalipun. Semoga untuk saat ini, aku bisa secara perlahan terlepas dari kalian, terlepas dari kebahagiaan yang telah kalian berikan, dan semoga aku tak pernah membuat kalian marah dan membenci ku, aku berfikir lebih baik tak berkesan sama sekali, dari pada meninggalkan kesan yang tidak menyenangkan. Kehidupan ku akan aku buat seberharga mungkin, walaupun aku akan merangkak untuk akhirnya merasakan hal itu. Aku selalu berdoa, suatu ketika aku akan berdiri dengan dua kaki ku diatas terjaknya tebing, tanpa pegangan, tanpa tongkat.  

No comments:

Post a Comment